Dia berlari, tertawa dan menyanyi bersama kakak-kakanya. Tak tergambar aura kesedihan dan duka di wajahnya. Yah dia memang belum mengerti dan paham bahwa ayah dan ibu serta kakak-kakaknya sedang dilanda duka akibat ulah pertambangan yang terus menggusur tanahnya tempat ia bermain, dan menabur benih-benih masa depannya. Dia seakan sudah akrab dengan tanah kampungnya. Dia begitu lincah berjalan di antara rerumputan dan lumpur meski tak bersandal. Dia begitu lincah menghindari lumpur dalam suara nyanyian bersama kakak-kakaknya. Saat kugendong dia ketika melewati jalan berlumpur, dia meminta untuk turun dari rangkulan dan gendonganku. Dia seakan lebih menikmati jalanan kampungnya bersama kakak-kakaknya dari pada menikmati gendonganku. Aku menurunkannya, dan diapun bergabung bersama kakak-kakaknya sambil menyanyikan lagu- lagu sekolah Minggu sepanjang jalan di saat kami melakukan survei dan pengambilan foto di kampungnya.
Dia begitu menikmati keindahan alam kampungnya yang ditumbuhi aneka macam pohon buah: kelengkeng, isau, rambutan, durian dan lainnya serta tanaman lainnya seperti: cokelat, kopi, kelapa dan lainnya. Hijaunya alam kampungnya menjadi nikmat perjalanan dia bersama kakak-kakaknya. Dia bersama kakak-kakaknya lebur dalam kegembiraan siang ini, bermesrah bersama saya, Mbak Nyar, Sarah dan teman-teman lainnya. Dia bersama kakak-kakaknya menggandeng tangan kami seakan sedang berbagi sukacita bersama kami di tengah duka yang dialami oleh bapak, mama, tante, om dan kakek serta neneknya. Kemanapun kami mampir, dia setia mengikuti bahkan berlari mendahului sambil tertawa dan berteriak kegirangan bersama kakak-kakaknya. Dari wajahnya seakan sedang membisikan kepadaku; jaga tanahku, tanah leluhurku, masa depanku. Dia bersama kakak-kakaknya tidak rebutan untuk menikmati buah. Mereka saling berbagi, satu buah dinikmati bersama, seakan sedang menuliskan kepada kami, satu tanah milik kami bersama.
Demi dia, kakak- kakaknya rela membagikan kepadanya sebagian buah “nangka hutan” untuk dinikmatinya sendiri. Sedang kakak-kakaknya menikmati bagian yang lain tanpa saling berebut seakan sedang mengisahkan sebuah narasi kekeluargaan anak-anak kampung.
Dia begitu menikmati alamnya, terpesona dengan kampungnya dalam tawa riang menatap kakak- kakaknya bergelantungan ria di atas dahan-dahan pohon “nangka hutan”. Dia tetap menikmati buah “nangka hutan” di tanganya sambil bergembira bersama kakak-kakaknya melintasi jalan berumput yang didandani lumpur. Gadis kecil yang menampakan sebuah kebahagiaan dan sukacita, tinggal di kampungnya yang sudah menjadi rumah masa depannya.
Dia, gadis mungil yang belum mengerti tentang situasinya kini, berada dalam kepungan pertambangan batu bara adalah Cia demikian dia disapa keluarga sekampungnya. Dengan sebagian buah “nangka hutan” yang belum habis dinikmatinya, dan buah kelengkeng serta buah isau yang telah disantap di rumahnya; seakan sedang berteriak lantang kepada kami, kepada kita, kepada mereka; “JANGAN GUSUR TANAHKU, JANGAN REBUT BUAHKU: TANAH, BUAH, KAMPUNGKU MASA DEPANKU!! Mendengar ratapan Cia tak berucap, mendengar jeritannya tak berkata, tergambar dari wajah mungilnya yang belum mengerti sebuah duka dan derita; kutitipkan pesan singkat padanya meski dia sendirpun belum mengerti dan paham arti sebuah pesan dariku; “CIA SEKOLAH YANG RAJIN YAH...”Iya jawabnya singkat, jawabnya yang menggemakan kembali: “JANGAN GUSUR TANAHKU, JANGAN REBUT BUAHKU”: TANAH TEMPAT AKU BERSAMA KAKAK-KAKAKU BERMAIN, BUAH MASA DEPANKU KELAK. KARENA AKU BISA MENCAPAI CITA-CITA TANPA HARUS ADA TAMBANG BATU BARA, TETAPI DARI ANEKA POHON BUAH, TANAMAN YANG MENGHIJAU DI KAMPUNGKU.
Salamku: Cia-gadis mungil yang belum mengerti arti sebuah derita
Dikisahkan oleh Lie Jelivan MSF
Feb 12 at 11:47pm · Like · Follow Post
Wence Sitara and 3 others like this.
Sari A Asmir
:( ...
Feb 13 at 7:14am · Like
Vircentia Ling
Saya tiba2 teringat sebuah lagu lama, entah lagunya siapa dan juga lupa liriknya, intinya adalah Indonesia adalah negara yg kaya, apapun juga yg ditanam pasti hidup dan menghasilkan.
Mungkin itu kondisi berpuluhan atau seratus tahun yang lalu.
Sayang, kita tidak menyadari hal itu, kita lebih terfokus pada kekayaan alam yang jika dieksploitasi bisa langsung menjadikan negeri ini makmur, tapi kenyataannya adalah kita malah merusak keseimbangan alam, hingga tanah menjadi rusak dan berbagai bencana mengancam,,,
Kemakmuran yg diharapkan hanyalah mimpi di siang bolong, karena hasilnya hanya dinikmati sang penguasa dan pengusaha. Ironis sekali.
Jika kita bisa menghentikannya sekarang dan memulai kembali menggarap tanah, mungkin masih belum terlambat.
Majulah saudaraku!
Jangan lelah ya!!!
GBU :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar