Setiap kali mendiskusikan penyebab perubahan iklim, bahan bakar fosil menempati urutan teratas. Minyak bumi, gas alam, dan terutama batu bara memang sumber utama emisi karbon dioksida (CO²) dan gas-gas rumah kaca lainnya (GRK) yang disebabkan oleh manusia. Tetapi siklus gas rumah kaca dan mata rantai industri peternakan hewan sebagai makanan telah disepelekan, padahal kenyataannya industri peternakan bertanggung jawab terhadap setidaknya setengah dari seluruh gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia.
Hewan ternak telah dikenal sebagai penyumbang gas rumah kaca utama. Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) tahun 2006 yang telah dikutip secara luas, memperkirakan emisi yang setara dengan 7.516 juta metrik ton ekuivalen CO2 (CO²e) per tahun, atau 18% emisi gas rumah kaca dunia setiap tahun yang diakibatkan oleh hewan ternak, sapi, domba, kambing, unta, kuda, babi, dan unggas. Peternakan melepas 9% karbondioksida dan 37 gas metana (23 kali lebih berbahaya dari CO²). Selain itu, kotoran ternak menyumbang 65% nitrooksida (296 kali lebih berbahaya dari CO²), serta 64% ammonia penyebab hujan asam. Tetapi analisa FAO memperlihatkan bahwa peternakan dan hasil sampingnya sebenarnya bertanggung jawab setidaknya 32.564 juta metrik ton CO²e per tahun, atau 51% dari seluruh emisi gas rumah kaca dunia setiap tahun.
Sebanyak 37% metana yang dihasilkan oleh manusia berasal dari hewan ternak. Meskipun efek pemanasan metana di atmosfer lebih kuat daripada CO², tetapi keberadaannya di atmosfer hanya sekitar 8 tahun, dibandingkan CO² yang ada di atmosfer setidaknya selama 100 tahun. Sebagai hasilnya, pengurangan metana yang signifikan dari peternakan di seluruh dunia akan mengurangi GRK secara lebih cepat dibandingkan penerapan energi terbarukan dan efisiensi energi.
Ancaman utama dari perubahan iklim adalah pertumbuhan populasi manusia, pertumbuhannya diperkirakan sekitar 35 persen antara tahun 2006 hingga 2050. Dalam periode yang sama, FAO memproyeksikan bahwa jumlah peternakan di seluruh dunia akan meningkat dua kali lipat, sehingga emisi GRK (gas rumah kaca) akibat peternakan juga akan meningkat kurang lebih dua kali lipat (atau meningkat sedikit bila semua rekomendasi FAO diterapkan secara utuh), sementara itu diharapkan bahwa GRK dari industri lain akan menurun. Hal ini akan menyebabkan jumlah emisi akibat peternakan bahkan lebih tidak dapat diterima dibandingkan tingkat bahaya yang ditetapkan saat ini. Hal ini juga berarti bahwa strategi yang efektif harus melibatkan penggantian produk peternakan dengan produk pengganti yang lebih baik, alih-alih hanya mengganti satu produk daging dengan produk daging lainnya yang dianggap lebih rendah jejak karbonnya.
Tabel di atas adalah ringkasan dari kategori-kategori emisi peternakan dan perkiraan FAO terhadap angkanya. Angka dihitung dengan menambahkan keseluruhan gas rumah kaca yang terlibat dalam pembukaan lahan untuk menggembala dan menanam pakan ternak, memelihara hewan ternak, pengolahan dan pengiriman produk jadi. Perhitungan menunjukkan 25.048 juta ton CO²e yang disebabkan peternakan telah dihitung lebih rendah dari kenyataan atau dilewatkan; dari subtotal itu, 3.000 juta ton ditempatkan secara salah, dan 22.048 juta ton secara menyeluruh tidak dihitung. Ketika jumlah ton yang tidak dihitung ditambahkan ke dalam persediaan gas rumah kaca global di atmosfer, persediaan itu meningkat dari 41.755 juta ton menjadi 63.803 juta ton. Laporan FAO sebesar 7.516 juta ton CO²e yang disebabkan peternakan kemudian menurun dari 18 persen gas rumah kaca dunia menjadi 11,8 persen.
Diperkirakan 30% daratan bebas es di bumi digunakan untuk produksi daging, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mencairnya es di Arktika tidak akan menaikkan level permukaan air laut, melainkan akan mempercepat siklus pemanasan global itu sendiri. Bila es di Arktika mencair semua, 80% sinar matahari yang sebelumnya dipantulkan akan diserap 95% oleh air laut. Konsekuensi lanjut adalah potensi terlepasnya 400 miliar ton gas metana. Peternakan juga adalah penggerak utama dari penebangan hutan.
Diperkirakan 70% bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak.
Jika dilihat dalam waktu jangka yang lebih pendek, metana memiliki dampak yang sangat besar. Dan jika berada di atmosfer dan bereaksi, maka akan lebih besar dampak yang ditimbulkan. Dengan begitu gas rumah kaca yang dihasilkan dalam produki daging lebih tinggi daripada transportasi. Di sisi lain efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Akan tetapi apabila telah berlebihan di atmosfer, maka akan mengakibatkan pemanasan global.
Selain kerusakan terhadap lingkungan dan ekosistem, tidak sulit untuk menghitung bahwa industri ternak sama sekali tidak hemat energi. Industri ternak memerlukan energi yang berlimpah untuk mengubah ternak mejadi daging olahan.
Dengan menggabungkan biaya energi, konsumsi air, penggunaan lahan, polusi lingkungan, kerusakan ekosistem, tidaklah mengherankan jika satu orang berdiet daging dapat memberi makan 15 orang berdiet tumbuh-tumbuhan atau lebih. Dengan jumlah yang besar itu, peternakan sangat jelas memenuhi syarat untuk mendapat penanganan khusus dalam perubahan iklim.[BCR/FHI/FAO]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar