Kecamuk Cinta Yang Sekarat

Bahasa tentang keheningan, kedamaian yang begitu meluap, membuat kesegaran dan rasa syukur. Serupa penantian panjang menuju oase. Perasaan yang membuat hati ingin bersenandung gembira atau pada saat yang lain membuat perasaan merasakan kerinduan yang sangat, hingga menjerit putus asa.

Adalah sebuah wujud kesedihan menyelusup dihati, kepedihan yang tidak dimengerti. Pada saat yang sama, terasa begitu dekat. Sebuah alasan untuk kerinduan, kerinduan yang membawa kepada kenikmatan yang manis, teresapi dalam keheningan. Adalah sebuah tarian, tarian yg menyentuh kalbu, tarian yang mendidik emosi dengan segenap kekuatan. Terkadang membingungkan, semakin terhanyut, godaanpun semakin menggila. Karenanya, hanya akan menghambat kejiwaan siapapun yang masih mempertuturkan kesenangan syahwat dan kepuasan hawa nafsunya semata.

Sebelum menari, kalbu harus bersih dari segala keterkaitan atau keterikatan. Tidak semua orang bersedia terbakar untuk sampai atau mengerti. Dengannya semua kesunyian akan lebih hidup dibandingkan hiruk pikuk kota Mekah.

Cinta adalah ujian, makanan jiwa dan hati. Tetapi hati, yang memiliki kekuasaan atas cinta, terkadang berkehendak lain. Hati ingin menerima segalanya dengan lapang. Hati mengingini segala hal, apa yang dipandang baik atau buruk, apa yang dianggap bahagia atau apapun yang disangka sebagai penderitaan, dan hati tidak mengenal imbalan ataupun hukuman.

Dan bila sang pencipta telah berkehendak, siapapun yang mencinta, bercinta, dan atau mencintai, akan masuk kesisi lain dunia, sisi yang disebut sebagai dunia tanpa dimensi, dunia yang tidak dikenal. Harta karun terpendam di jalanan dunia itu, harta yang akan menghapiri tanpa dicari dengan kesadaran penuh. Tetapi kepedihan harus dijalin erat-erat dengan cinta dan kesabaran. Jangan biarkan kepedihan menjadi racun dalam pencarian harta karun cinta.

Ada banyak hal yang tidak boleh ternoda oleh kata-kata. Bermacam bentuk dan bunyi dari cinta mewujud. Dengan musik, cinta kembali menyapa. Musik membangkitkan jiwa, mengeluarkan penyumbat telinga hati. Bukan hanya kata-kata, tetapi musik dan nyanyian juga menghangatkan bahkan membakar hati. Dengannyalah, terkadang hati mulai lunak dan membangun apa itu yang disebut cinta.

Suara, nada-nada, dan harmoni pada musik menyatu, menghantarkan kelembutan yang mempesona. Suara yang menghanyutkan dan terkadang membuat sekujur tubuh bergemetar. Kemudian, pada saat yang lain, nada-nada dalam musik berubah menjadi pisau yang sangat tajam, membuat hati terhenyak dan terengah-engah. Sebuah harmoni yang membuat jiwa menari, mendaki, kemudian membungkuk, memohon, meratap, kembali bangkit, dan pada akhirnya, jiwa serasa dipenuhi kegembiraan yang hening, tapi tak lama kemudian, perasaan kembali dihancurkan oleh kepedihan tiada tara. Dialah pembawa hati menuju arus sang bening, dialah senar harpa, dia dicabik sekaligus menjadikan utuh. Kemudian, segalanya tiba-tiba saja menghilang.

Cinta adalah seekor merpati, yang dengannya jiwa akan dibawa terbang setinggi mungkin. Dan pada saatnya nanti, akan kembali, mendarat, meninabobokan jiwa-jiwa yang sekarat pada sarangn yang hangat. Tapi cinta ternyata sayap raksasa yang dapat menyelimuti dan melindungi. Sayap-sayap yang bisa saja, jika berkehendak, membawa jiwa kesisi lain dunia. Sinar matahari bisa saja disamarkan oleh gumpalan awan, tapi cahaya sang surya tetap menyinari permukaan bumi. Sang mawar bisa saja bersembunyi, tapi sang angin akan menyebarkan keharumannya. Hati bisa saja merasakan apapun, tapi jiwa tidak pernah berhenti bercakap-cakap.



Pare 29 03 12



“…..dan sang api maupun mawar adalah satu”

T.S. Eliot



“Semua bunga mawar, meski sisi luarnya kelihatan seperti duri; Itulah cahaya belukar terbakar, meski terlihat seperti api!”

Jalaludin Rumi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar